Sunday, November 26, 2017

wanita dan iman






Wanita



Iman


Hidup


    
    
    






Pengantar.
P
ertumbuhan iman setiap pribadi berbeda dengan pribadi yang lain, meskipun berada pada waktu yang sama dan ditempat yang sama suatu pengalaman akan dimaknai secara berbeda juga oleh masing-masing pribadi yang mengalaminya. Pengalaman iman  seseorang  dipengaruhi oleh peristiwa hidup dimasa lalu. Inilah proses masing –masing memiliki cara dan waktu tersendiri untuk berproses dalam iman tidak tergantung tempat dan waktu, usia dan pendidikan, suku dan budaya. Kemampuan seseorang untuk mampu bertumbuh dalam proses dalam perkembangan imannya sangat dipengaruhi oleh relasinya dengan Tuhan  dan sesama.
Karena setiap  waktu adalah Rahmat Anugerah Tuhan yang sungguh indah yang patut disyukuri maka setiap saat dalam hidup ini adalah kesempatan yang baik untuk berproses melalui setiap pengalaman hidup baik suka maupun duka, baik cemas dan gelisah, diwaktu tenang dan sibuk, duduk atau berdiri semuanya itu  untuk terus disyukuri dan dijadikan suatu pengalaman yang bermakna yang menghadirkan kasih Tuhan yang tidak pernah berkesudahan. Karena memang setiap saat memiliki kisahnya masing-masing dan setiap kisah memiliki makna tersendiri.
Berangkat dari pengalaman iman yang kami peroleh dari setiap proses hidup baik didalam  biara maupun diluar biara membawa kami pada satu kesadaran bahwa iman yang hidup diperoleh dari setiap pengalaman yang  hidup, baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain yang rela  berbagi pengalaman iman  dengan kami. Dengan segala upaya maka kami berusaha menuliskannya dalam sebuah tulisan sharing iman yang berjudul  “Wanita Beriman Zaman Ini”. Selamat  membaca semoga bermanfaat.





1. Latar Belakang.
            Latar belakang munculnya tulisan ini adalah menindaklanjuti pendalaman iman kami mengenai kisah Ruth dan Ester didalam Kitab Perjanjian Lama yang telah kami renungkan bersama dan sharingkan bersama. Namun merasa kurang cukup tanpa mengalami secara langsung melalui pengalaman iman yang kami peroleh dari orang-orang yang telah cukup “makan asam garam kehidupan ” maka kami mencoba  keluar dari zona aman dan memberanikan diri untuk menjumpai tiga orang ibu yang secara khusus kami pilih untuk mengajak mereka  berbagi pengalaman iman dengan kami yang dapat membantu kami untuk bertumbuh dan teguh dalam iman kepercayaan kami sehingga mampu menjadi seperti Ruth dan Ester, menjadi wanita yang penuh iman dizaman ini.
            “Wanita-Wanita Beriman Zaman Ini” adalah judul yang kami pilih agar sesuai dengan perkembangan zaman sekarang ini dimana iman umat manusia khususnya kaum wanita terus menerus ditantang dan diuji lewat banyaknya godaan dan tawaran yang menggiurkan kaum wanita, maka dalam hidup  yang terus berproses sesuai dengan perkembangan zaman setiap saat. Iman wanita senantiasa diuji dan diproses sejalan dengan zaman yang menuntut kesetaraan gender, sehingga tidak diragukan lagi bahwa wanita-wanita disetiap zaman turut berpartisipasi dalam setiap pertumbuhan iman dan perkembangan dunia disetiap zamannya, juga dizaman ini banyak wanita-wanita diseluruh dunia turut ambil bagian dalam membangun iman yang teguh dalam keluarga, masayarakat, bangsa dan Negara, banyak tokoh-tokoh besar  wanita yang setia memperjuangkan iman dan kebenaran hingga saat ini.
            “Wanita-Wanita Beriman Zaman Ini”  yang kami temui ini adalah wanita sederhana yang melakukan tugas-tugasnya sebagai ibu rumah tangga yang setia mengurus suami dan anak-anak mereka. Namun dibalik kesibukan mereka sebagai ibu rumahtangga tersimpan berbagai pengalaman iman yang menghidupkan baik dalam keluarga mereka maupun masyarakat disekitarnya yang tentunya baik untuk dibagikan kepada generasi muda zaman ini, dilengkapi dengan profil mereka, dan ditambah dengan pesan-pesan iman yang berdayaguna menumbuhkembangkan iman.


“Wanita Beriman Zaman Ini”  yang pertama adalah :                               
Nama               : Ibu Yani
Umur               : 60 tahun
Asal                 : Dayak-Kalimantan                                       
Orangtua         : Jawa  Sumatera/ Dayak
Agama             : Islam
Anak               : 4 laki-laki, 1 perempuan.
Cucu                : 15 orang
Pekerjaan         : Ibu Rumah Tangga
           
Perjumpaan kami dengan bu Yani dimulai saat kunjungan kerumah bu Budi tetangga dan umat satu lingkungan yang sedang sakit, dan Ibu Yanilah yang setia menjaga dan mengurusin ibu Budi iparnya itu.  Sikapnya yang ramah dan mudah tersenyum membuat kami tidak sungkan untuk  bercerita dan bertanya-tanya seputar kisah hidup bu Yani, ternyata beliau seorang muslimah yang taat dan teguh pada imannya sebagai muslim yang baik. meskipun seiring berjalannya waktu dikisahkan bahwa bu Yani berteman dengan banyak teman yang berbeda agama dan suku budayanya, dan sudah beberapa kali mengikuti kegiatan digereja dan hampir dibabtis disebuah gereja protestan, tetapi akhirnya tidak jadi karena ada sesuatu hal yang kurang pas yang mengganggu hatinya sehingga memutuskan tetap setia memeluk agamanya (Islam).
            Pengalaman bu Yani dengan teman-teman yang berbeda agama tidak masalah baginya apalagi masa kecilnya pernah dididik di salah satu Sekolah Katolik di kotanya,  baginya semua agama adalah bertujuan yang baik dan semua menyembah Tuhan yang satu. “ beragama berarti beriman dan percaya kepada Tuhan yang kusembah, tidak perlu mempersoalkan dan mempertanyakan agama orang lain, yang baik dari orang lain ya diambil ditiru dan yang buruk ya dibuang jauh-jauhlah, toh agama adalah urusan pribadiku dengan Tuhan iyakan?” ungkap bu Yani ketika kami tanya soal relasinya dengan orang-orang yang berbeda keyakinan.


Banyak suka duka dalam hidup yang dialami bu Yani membuatnya semakin teguh dalam beriman dan percaya bahwa Tuhan akan terus mendampinginya dalam seluruh perjalanan hidupnya. Apalagi dimasa tuanya yang diikhlaskannya untuk mengurus iparnya (bu Budi seorang beragama Katolik) beliau juga merasa bahwa ia diutus untuk mengurusi saudaranya yang sakit dan ini kedua kalinya mengurus sanak saudara yang sebelumnya telah lama mengurus iparnya juga di Bandung yang sudah meninggal karena penyakitnya yang  sudah  komplikasi dan tidak tertolong lagi. Baginya ini adalah tugasnya selama ia masih mampu untuk melakukannya apalagi sudah hidup sendiri setelah anak-anaknya sudah berkeluarga semua, dan memiliki hidup masing-masing. Sikapnya yang spontan dan senang cerita membuatnya disukai teman-teman dan keluarganya, meskipun mengaku cerewet dan ngomong ceplas-ceplos bu Yani disukai banyak orang.
Pesan iman dari  Ibu Yani untuk wanita-wanita  muda zaman ini adalah:
1.      Ada banyak tantangan dalam hidup beriman dizaman ini, tidak peduli datang dari dalam atau diluar diri, intinya jalani hidup ini dengan tulus iklas.
2.      Perbuatlah segala sesuatu dengan tanpa pamrih, apalagi dalam hidup melayani siapa saja jangan memilih-milih.
3.      Hidup saling mengasihi, tolong-menolong saling membantu satu samalain agar hidup terasa indah dan damai, bersikaplah ramah dan santun kepada siapa saja dan dimana saja., menyapa dan tersenyumlah.
Terima kasih Ibu Yani untuk sharingnya semoga selalu sehat dan terus semangat dalam menjalani pelayanannya, dan semoga kamipun bisa lebih santun dan lebih ramah lagi, mudah berbagi senyum kepada siapa saja yang kami temui. Tuhan memberkati kita semua. Amin.





“Wanita Beriman Zaman Ini”  yang kedua  adalah :
Nama               : Ibu Pendeta, Paula Lai-Bahas
Lahir                : Jakarta , 09 Mei 1950                                   
Umur               : 67 tahun,                                                                                                      
Asal                 : NTT-Jawa                                        
Agama             : Protestan
Anak               : -
Pekerjaan         : Pendeta di GBI
            Ibu Paula Laibahas adalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana sekaligus sebagai ibu pendeta, menggembalakan umat GBI dikota Kupang. Dari kisahnya kami mengetahui bahwa  ibu Paula kelahiran Jakarta dan kemudian bersama orang tuanya puluhan tahun yang lalu, pindah ke kota Kupang dan memulai pelayanan mereka bagi umat GBI disana, mulai dari mendirikan sekolah TK hingga SD yang mempunyai nama Yayasan Pendidikan Paula, yang adalah nama dari Ibu Paula sendiri sebagai anak tunggal. Dididik oleh iman yang teguh kepada Yesus Kristus, ibu Paula menjadi seorang wanita beriman yang kuat apalagi setelah menamatkan pendidikannya di UKI-Jakarta lalu membaktikan hidupnya untuk meneruskan pelayanannya mengelola Yayasan Pendidikan Paula yang dirintis orang tuanya di kota Kupang.
            “Hidup ini tidak selalu berjalan mulus”, tutur ibu Paula saat kami menanyakan pengalaman beliau dan peristiwa-peristiwa yang menenantang imannya untuk terus berharap kepada Tuhan. Ternyata kisah ibu Paula sangat menggugah hati. Mengarungi sebuah keluarga dari suku yang berbeda( ibu Paula Jawa-NTT dan suaminya Jawa-Sumatera ) tidak mudah, awalnya memang  terasa indah, namun setelah mengalami dua kali  keguguran ibu Paula merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya, pada awalnya selalu pulang malam tiap hari, lama-lama sekali seminggu kemudian berbulan-bulan tidak pulang kerumah dengan alasan ada pekerjaan diluar kota ngakunya bekerja dikota Bandung. Setiap pulang meminta uang dengan alasan sedang ada proyek ternyata setelah diselidiki sudah punya istri baru dan memang tinggal diBandung. Betapa hancurnya hati Ibu Paula pada saat itu tetapi memilih tetap setia walaupun sudah ditinggal oleh suaminya tercinta.
            Waktu berlalu karena berbagai hal  beberapa tahun yang lalu Yayasan Pendidikan Paula yang dikelola ibu paula akhirnya ditutup, beliau lebih fokus melayani umatnya diGBI dan kemudian karena sudah tidak kuat dipindahkan kePanti Wreda Kidung Salomo yang berada di Tangerang Selatan ini.  Menjadi sangat mengharukan ketika Ibu Paula dengan besar hati dan dalam iman kepercayaan sungguh memaafkan suaminya dan mengikhlaskannya bersama wanita lain sungguh-sungguh suatu iman yang sulit ditemukan zaman ini.
 Ibu Paula juga selalu bersyukur kepada Tuhan untuk semua yang ia alami terlebih lagi ketika bersama umat di Gereja Betel Indonesia yang di kota Kupang-NTT, dapat melayani mereka, dan mereka sangat mencintainya sebagai ibu pendeta, ibu gembala mereka, bagaimana ia mendampingi muda-mudi, anak remaja dan anak-anak juga orang-orang tua menjadi sangat beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus menjadi suatu berkat melimpah baginya yang Tuhan anugerahkan padanya selama ini.
Pesan iman dari Ibu Paula untuk wanita-wanita muda zaman ini adalah:
        Banyak-banyaklah Berdoa, sebab berdoa menyenangkan hati yang sedih, meneduhkan jiwa yang gersang dan membangkitkan semangat yang lemah lesu.
        Segala perkara serahkanlah kepadaTuhan sebab Ia sungguh baik dan Maha perkasa dalam Dialah segala sesuatu indah pada waktunya, sebab Tuhanlah penolong yang ajaib, maha kuasa dan lagi setia.
        Jangan tanggung sendiri segala urusan hidup sebab siapa anda yang merasa sanggup tanpa campur tangan Tuhan?
        Maju terus jangan menyerah, pantang mundur dalam Nama Tuhan Yesus Kristus
Amin. Terima kasih Ibu Paula untuk pesan iman yang sangat mendalam yang sudah kami terima  semoga kami juga bisa teguh dalam iman kepercayaan kepada Tuhan kita Yesus Kristus dan selalu maju terus pantang mundur. Tuhan Memberkati.

           
           
“Wanita Beriman Zaman Ini” yang ketiga adalah :
Nama               : Ibu Margaretha Nuni Sugiarti
Umur               : 61 Tahun
Asal                 : Jawa Surabaya                                             
Agama             : Katolik
Anak               : 1 Laki-Laki, 1 perempuan.
Cucu                : -
Pekerjaan         : Ibu Rumah Tangga
           
                Kisah Ibu Margareth yang biasa disapa dengan bu Nuni, yang dulunya adalah seorang beragama Muslim yang saat ini sudah menjadi seorang Katolik yang taat dan aktif dalam berbagai kegiatan di Paroki st. Matius Penginjil Bintaro. Kecintaannya terhadap agama Katolik yang ia yakini setelah menikah dan mengikuti suami yang seorang Katolik tampak dari pemberian dirinya melalui Ekaristi yang setiap hari diikutinya, kegiatan Ibu-ibu paroki, anggota Warsen dan aktif di Legio Maria juga.
            Menghayati iman yang beliau pilih tidak luput dari banyak tantangan dan  perjuangan  yang panjang juga, bagaimana ditentang dan dijauhi keluarga dan masyarakat, apalagi menikah dengan seorang yang beda agama dan beda belasan tahun usianya sehingga dituduh menikah dengan seorang “duda” membuatnya semakin teguh dan yakin suatu saat nanti mereka akan mengetahui yang sebenarnya.  “ Kalau dulu saya ikut orang tua,  sekarang saya harus mengikuti suami seutuhnya yang akan bertanggung jawab atas diriku”  adalah prinsip hidupnya, meskipun ditentang oleh keluarga dan masyarakat waktu itu ia tidak menyerah, memutuskan tetap mengikuti agama suaminya meskipun tidak diminta oleh suaminya untuk harus pindah agama. Karena baginya satu iman lebih baik untuk anak-anaknya nanti daripada dua iman kepercayaan membingungkan anak-anak. Karena itu juga ia memutuskan pindah keJakarta mengikuti suaminya.
              

            Menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik dan menjadi seorang katolik yang baik  adalah juga  panggilan khusus baginya. Bagaimana ia berjuang dari waktu ke waktu yang dulunya kurang sabar dalam mendidik anak-anaknya sekarang menjadi sangat sabar, karena dididukung oleh suaminya juga. Dan bersyukur atas kesetiaan dan kebaikan suaminya yang selalu mencintainya dan mendukungnya. Juga atas keberhasilannya dalam mendidik kedua anaknya  yang selalu akur dan saling mencintai tolong menolong satu sama lain.
 Ibu Nuni juga menjadi sangat mudah perhatian kepada orang-orang yang sangat membutuhkan kerap kali memberi tawaran untuk membantu anak-anak disekitarnya untuk dibantu dan setelah kedua anaknya berhasil dan memiliki keluarga masing-masing. Saat ini ibu Nuni menjalani hari-harinya mengurus suami dan membantu menjaga anak keponakannya sambil menunggu dan berdoa semoga cepat diberi cucu oleh kedua anaknya yang sudah menikah tetapi belum memiliki anak.
Pesan iman dari Ibu Yani untuk wanita muda zaman ini adalah:
o   Bersabarlah dalam setiap cobaan dan tantangan hidup memang awalnya sangat sulit tetapi percayalah dan yakinlah akan menikmati hasilnya dikemudian hari.
o   Memberikan apa saja dengan tulus apapun yang ada pada kita untuk dapat menolong sesama yang berkekurangan tidak harus dengan materi tetapi dengan perhatian dan sapaan juga sudah membantu mereka.
o   Relasi kita dengan sesama perlu diperbaharui terus menerus agar bisa saling membantu, tolong menolong satu sama lain, agar tercipta suasan aman dan damai.
o   Teguhlah pada iman yang sudah kamu pilih dan jalanilah dengan keyakinan yang pasti bahwa Tuhan sungguh-sungguh berkarya dan senantiasa menyertai kita dalam setiap pesoalan hidup ini karena Allah Maha Kasih.
Terima kasih ibu Nuni untuk sharingnya semoga relasi yang kita bina selama ini dengan sesama yang kita jumpai dimana saja sungguh-sungguh menciptakan suasana kesejukan dan kedamaian. Amin.




Kesimpulan
          Melalui sharing iman yang singkat ini kami menyimpulkan bahwa di dalam perjalanan hidup beriman ada banyak hal yang mempengaruhi  proses pertumbuhan iman seseorang apakah menjadi tumbuh dan berkembang  ataupun mengalami  kemunduran bahkan mengalami kematian iman yang dapat  dialami oleh setiap pribadi. Salah satu hal yang sangat berpengaruh ialah suatu Zaman. Maka iman sangat diperlukan agar dapat selalu berpengharapan akan cinta kasih Allah yang selalu setia kepada umat-Nya. Disetiap waktu yang Tuhan berikan kepada umat-Nya, Ia mengutus dan memanggil setiap pribadi untuk hidup dalam kasih-Nya itu dengan berbagai cara Ia menghendaki agar semua orang mengalami kasih-Nya dan memperoleh keselamatan hidup dan berbahagia bersama-Nya selama-lamanya.
Setiap zaman didunia ini memiliki kisahnya masing-masing, dan  memiliki kebutuhannya  sendiri-sendiri, perkembangan zaman yang semakin modern mendesak semua orang untuk dapat mengikuti perkembangan zaman tersebut tetapi terus menerus mengembangkan pertumbuhan imannya agar  tidak menyimpang dari kebenaran iman   tetapi mengaplikasikan iman dalam menjalani hidup dizaman modern saat ini.
Dalam Peraturan Hidup  Kanossian Artikel 56 dikatakan bahwa: “Realitas dunia sekarang secara mendesak mengajak kita untuk mengambil bagian dalam evangelisasi baru dalam ekumenikal dan dialog antar sesama”. Agar hal ini terwujud dimulai dari pribadi sendiri untuk bisa keluar dari kenyamanan pribadi dan melebur dalam dunia Zaman ini tetapi tetap memiliki integritas yang utuh dan yang  berasa sebagai orang yang beriman, terkhusus dalam beriman mengukuti Yesus Kristus, seperti garam yang melebur dalam makanan meskipun tidak kelihatan tetapi terasa bahwa ada garam didalamnya.

































No comments:

Post a Comment