Wanita
|
Iman
|
Hidup
|
Pengantar.
P
|
ertumbuhan iman setiap pribadi berbeda dengan pribadi
yang lain, meskipun berada pada waktu yang sama dan ditempat yang sama suatu
pengalaman akan dimaknai secara berbeda juga oleh masing-masing pribadi yang
mengalaminya. Pengalaman iman seseorang dipengaruhi oleh peristiwa hidup dimasa lalu.
Inilah proses masing –masing memiliki cara dan waktu tersendiri untuk berproses
dalam iman tidak tergantung tempat dan waktu, usia dan pendidikan, suku dan
budaya. Kemampuan seseorang untuk mampu bertumbuh dalam proses dalam
perkembangan imannya sangat dipengaruhi oleh relasinya dengan Tuhan dan sesama.
Karena setiap
waktu adalah Rahmat Anugerah Tuhan yang sungguh indah yang patut
disyukuri maka setiap saat dalam hidup ini adalah kesempatan yang baik untuk
berproses melalui setiap pengalaman hidup baik suka maupun duka, baik cemas dan
gelisah, diwaktu tenang dan sibuk, duduk atau berdiri semuanya itu untuk terus disyukuri dan dijadikan suatu
pengalaman yang bermakna yang menghadirkan kasih Tuhan yang tidak pernah
berkesudahan. Karena memang setiap saat memiliki kisahnya masing-masing dan
setiap kisah memiliki makna tersendiri.
Berangkat dari pengalaman iman yang kami peroleh
dari setiap proses hidup baik didalam
biara maupun diluar biara membawa kami pada satu kesadaran bahwa iman
yang hidup diperoleh dari setiap pengalaman yang hidup, baik dari pengalaman pribadi maupun
pengalaman orang lain yang rela berbagi
pengalaman iman dengan kami. Dengan
segala upaya maka kami berusaha menuliskannya dalam sebuah tulisan sharing iman
yang berjudul “Wanita Beriman Zaman Ini”. Selamat membaca semoga bermanfaat.
1. Latar
Belakang.
Latar
belakang munculnya tulisan ini adalah menindaklanjuti pendalaman iman kami
mengenai kisah Ruth dan Ester didalam Kitab Perjanjian Lama yang telah kami
renungkan bersama dan sharingkan bersama. Namun merasa kurang cukup tanpa mengalami
secara langsung melalui pengalaman iman yang kami peroleh dari orang-orang yang
telah cukup “makan asam garam kehidupan ” maka kami mencoba keluar dari zona aman dan memberanikan diri
untuk menjumpai tiga orang ibu yang secara khusus kami pilih untuk mengajak
mereka berbagi pengalaman iman dengan
kami yang dapat membantu kami untuk bertumbuh dan teguh dalam iman kepercayaan
kami sehingga mampu menjadi seperti Ruth dan Ester, menjadi wanita yang penuh
iman dizaman ini.
“Wanita-Wanita
Beriman Zaman Ini” adalah judul yang kami pilih agar sesuai dengan perkembangan
zaman sekarang ini dimana iman umat manusia khususnya kaum wanita terus menerus
ditantang dan diuji lewat banyaknya godaan dan tawaran yang menggiurkan kaum
wanita, maka dalam hidup yang terus
berproses sesuai dengan perkembangan zaman setiap saat. Iman wanita senantiasa
diuji dan diproses sejalan dengan zaman yang menuntut kesetaraan gender,
sehingga tidak diragukan lagi bahwa wanita-wanita disetiap zaman turut berpartisipasi
dalam setiap pertumbuhan iman dan perkembangan dunia disetiap zamannya, juga
dizaman ini banyak wanita-wanita diseluruh dunia turut ambil bagian dalam
membangun iman yang teguh dalam keluarga, masayarakat, bangsa dan Negara,
banyak tokoh-tokoh besar wanita yang
setia memperjuangkan iman dan kebenaran hingga saat ini.
“Wanita-Wanita
Beriman Zaman Ini” yang kami temui ini
adalah wanita sederhana yang melakukan tugas-tugasnya sebagai ibu rumah tangga
yang setia mengurus suami dan anak-anak mereka. Namun dibalik kesibukan mereka
sebagai ibu rumahtangga tersimpan berbagai pengalaman iman yang menghidupkan
baik dalam keluarga mereka maupun masyarakat disekitarnya yang tentunya baik untuk
dibagikan kepada generasi muda zaman ini, dilengkapi dengan profil mereka, dan
ditambah dengan pesan-pesan iman yang berdayaguna menumbuhkembangkan iman.
“Wanita Beriman Zaman Ini” yang pertama adalah :
Nama
: Ibu Yani
Umur
: 60 tahun
Asal : Dayak-Kalimantan
Orangtua : Jawa
Sumatera/ Dayak
Agama : Islam
Anak : 4 laki-laki, 1 perempuan.
Cucu : 15 orang
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Perjumpaan
kami dengan bu Yani dimulai saat kunjungan kerumah bu Budi tetangga dan umat
satu lingkungan yang sedang sakit, dan Ibu Yanilah yang setia menjaga dan
mengurusin ibu Budi iparnya itu.
Sikapnya yang ramah dan mudah tersenyum membuat kami tidak sungkan untuk
bercerita dan bertanya-tanya seputar
kisah hidup bu Yani, ternyata beliau seorang muslimah yang taat dan teguh pada
imannya sebagai muslim yang baik. meskipun seiring berjalannya waktu dikisahkan
bahwa bu Yani berteman dengan banyak teman yang berbeda agama dan suku budayanya,
dan sudah beberapa kali mengikuti kegiatan digereja dan hampir dibabtis
disebuah gereja protestan, tetapi akhirnya tidak jadi karena ada sesuatu hal
yang kurang pas yang mengganggu hatinya sehingga memutuskan tetap setia memeluk
agamanya (Islam).
Pengalaman bu Yani dengan
teman-teman yang berbeda agama tidak masalah baginya apalagi masa kecilnya
pernah dididik di salah satu Sekolah Katolik di kotanya, baginya semua agama adalah bertujuan yang baik
dan semua menyembah Tuhan yang satu. “ beragama berarti beriman dan percaya
kepada Tuhan yang kusembah, tidak perlu mempersoalkan dan mempertanyakan agama
orang lain, yang baik dari orang lain ya diambil ditiru dan yang buruk ya
dibuang jauh-jauhlah, toh agama adalah urusan pribadiku dengan Tuhan iyakan?”
ungkap bu Yani ketika kami tanya soal relasinya dengan orang-orang yang berbeda
keyakinan.
Banyak
suka duka dalam hidup yang dialami bu Yani membuatnya semakin teguh dalam
beriman dan percaya bahwa Tuhan akan terus mendampinginya dalam seluruh
perjalanan hidupnya. Apalagi dimasa tuanya yang diikhlaskannya untuk mengurus
iparnya (bu Budi seorang beragama Katolik) beliau juga merasa bahwa ia diutus
untuk mengurusi saudaranya yang sakit dan ini kedua kalinya mengurus sanak
saudara yang sebelumnya telah lama mengurus iparnya juga di Bandung yang sudah
meninggal karena penyakitnya yang sudah
komplikasi dan tidak tertolong lagi. Baginya ini adalah tugasnya selama
ia masih mampu untuk melakukannya apalagi sudah hidup sendiri setelah
anak-anaknya sudah berkeluarga semua, dan memiliki hidup masing-masing. Sikapnya
yang spontan dan senang cerita membuatnya disukai teman-teman dan keluarganya,
meskipun mengaku cerewet dan ngomong ceplas-ceplos bu Yani disukai banyak orang.
Pesan
iman dari Ibu Yani untuk wanita-wanita muda zaman ini adalah:
1. Ada
banyak tantangan dalam hidup beriman dizaman ini, tidak peduli datang dari
dalam atau diluar diri, intinya jalani hidup ini dengan tulus iklas.
2. Perbuatlah
segala sesuatu dengan tanpa pamrih, apalagi dalam hidup melayani siapa saja
jangan memilih-milih.
3. Hidup
saling mengasihi, tolong-menolong saling membantu satu samalain agar hidup
terasa indah dan damai, bersikaplah ramah dan santun kepada siapa saja dan
dimana saja., menyapa dan tersenyumlah.
Terima
kasih Ibu Yani untuk sharingnya semoga selalu sehat dan terus semangat dalam
menjalani pelayanannya, dan semoga kamipun bisa lebih santun dan lebih ramah
lagi, mudah berbagi senyum kepada siapa saja yang kami temui. Tuhan memberkati
kita semua. Amin.
“Wanita
Beriman Zaman Ini” yang kedua adalah :
Nama
: Ibu Pendeta, Paula
Lai-Bahas
Lahir
: Jakarta , 09 Mei 1950
Umur : 67 tahun,
Asal : NTT-Jawa
Agama : Protestan
Anak : -
Pekerjaan : Pendeta di GBI
Ibu Paula Laibahas adalah seorang
ibu rumah tangga yang sederhana sekaligus sebagai ibu pendeta, menggembalakan
umat GBI dikota Kupang. Dari kisahnya kami mengetahui bahwa ibu Paula kelahiran Jakarta dan kemudian
bersama orang tuanya puluhan tahun yang lalu, pindah ke kota Kupang dan memulai
pelayanan mereka bagi umat GBI disana, mulai dari mendirikan sekolah TK hingga
SD yang mempunyai nama Yayasan Pendidikan Paula, yang adalah nama dari Ibu
Paula sendiri sebagai anak tunggal. Dididik oleh iman yang teguh kepada Yesus
Kristus, ibu Paula menjadi seorang wanita beriman yang kuat apalagi setelah
menamatkan pendidikannya di UKI-Jakarta lalu membaktikan hidupnya untuk
meneruskan pelayanannya mengelola Yayasan Pendidikan Paula yang dirintis orang
tuanya di kota Kupang.
“Hidup
ini tidak selalu berjalan mulus”, tutur ibu Paula saat kami menanyakan
pengalaman beliau dan peristiwa-peristiwa yang menenantang imannya untuk terus
berharap kepada Tuhan. Ternyata kisah ibu Paula sangat menggugah hati.
Mengarungi sebuah keluarga dari suku yang berbeda( ibu Paula Jawa-NTT dan
suaminya Jawa-Sumatera ) tidak mudah, awalnya memang terasa indah, namun setelah mengalami dua
kali keguguran ibu Paula merasa ada
sesuatu yang tidak beres dengan suaminya, pada awalnya selalu pulang malam tiap
hari, lama-lama sekali seminggu kemudian berbulan-bulan tidak pulang kerumah
dengan alasan ada pekerjaan diluar kota ngakunya bekerja dikota Bandung. Setiap
pulang meminta uang dengan alasan sedang ada proyek ternyata setelah diselidiki
sudah punya istri baru dan memang tinggal diBandung. Betapa hancurnya hati Ibu
Paula pada saat itu tetapi memilih tetap setia walaupun sudah ditinggal oleh
suaminya tercinta.
Waktu berlalu karena berbagai hal beberapa tahun yang lalu Yayasan Pendidikan
Paula yang dikelola ibu paula akhirnya ditutup, beliau lebih fokus melayani
umatnya diGBI dan kemudian karena sudah tidak kuat dipindahkan kePanti Wreda
Kidung Salomo yang berada di Tangerang Selatan ini. Menjadi sangat mengharukan ketika Ibu Paula
dengan besar hati dan dalam iman kepercayaan sungguh memaafkan suaminya dan
mengikhlaskannya bersama wanita lain sungguh-sungguh suatu iman yang sulit
ditemukan zaman ini.
Ibu Paula juga selalu bersyukur kepada Tuhan
untuk semua yang ia alami terlebih lagi ketika bersama umat di Gereja Betel
Indonesia yang di kota Kupang-NTT, dapat melayani mereka, dan mereka sangat
mencintainya sebagai ibu pendeta, ibu gembala mereka, bagaimana ia mendampingi
muda-mudi, anak remaja dan anak-anak juga orang-orang tua menjadi sangat
beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus menjadi suatu berkat melimpah
baginya yang Tuhan anugerahkan padanya selama ini.
Pesan
iman dari Ibu Paula untuk wanita-wanita muda zaman ini adalah:
†
Banyak-banyaklah Berdoa, sebab berdoa
menyenangkan hati yang sedih, meneduhkan jiwa yang gersang dan membangkitkan
semangat yang lemah lesu.
†
Segala perkara serahkanlah kepadaTuhan
sebab Ia sungguh baik dan Maha perkasa dalam Dialah segala sesuatu indah pada
waktunya, sebab Tuhanlah penolong yang ajaib, maha kuasa dan lagi setia.
†
Jangan tanggung sendiri segala urusan
hidup sebab siapa anda yang merasa sanggup tanpa campur tangan Tuhan?
†
Maju terus jangan menyerah, pantang
mundur dalam Nama Tuhan Yesus Kristus
Amin.
Terima kasih Ibu Paula untuk pesan iman yang sangat mendalam yang sudah kami
terima semoga kami juga bisa teguh dalam
iman kepercayaan kepada Tuhan kita Yesus Kristus dan selalu maju terus pantang
mundur. Tuhan Memberkati.
“Wanita
Beriman Zaman Ini” yang ketiga adalah :
Nama
: Ibu Margaretha Nuni
Sugiarti
Umur
: 61 Tahun
Asal : Jawa Surabaya
Agama : Katolik
Anak : 1 Laki-Laki, 1 perempuan.
Cucu : -
Pekerjaan :
Ibu Rumah Tangga
Kisah Ibu Margareth
yang biasa disapa dengan bu Nuni, yang dulunya adalah seorang beragama Muslim
yang saat ini sudah menjadi seorang Katolik yang taat dan aktif dalam berbagai
kegiatan di Paroki st. Matius Penginjil Bintaro. Kecintaannya terhadap agama
Katolik yang ia yakini setelah menikah dan mengikuti suami yang seorang Katolik
tampak dari pemberian dirinya melalui Ekaristi yang setiap hari diikutinya,
kegiatan Ibu-ibu paroki, anggota Warsen dan aktif di Legio Maria juga.
Menghayati iman yang beliau pilih
tidak luput dari banyak tantangan dan
perjuangan yang panjang juga,
bagaimana ditentang dan dijauhi keluarga dan masyarakat, apalagi menikah dengan
seorang yang beda agama dan beda belasan tahun usianya sehingga dituduh menikah
dengan seorang “duda” membuatnya semakin teguh dan yakin suatu saat nanti
mereka akan mengetahui yang sebenarnya. “
Kalau dulu saya ikut orang tua, sekarang
saya harus mengikuti suami seutuhnya yang akan bertanggung jawab atas diriku” adalah prinsip hidupnya, meskipun ditentang
oleh keluarga dan masyarakat waktu itu ia tidak menyerah, memutuskan tetap
mengikuti agama suaminya meskipun tidak diminta oleh suaminya untuk harus
pindah agama. Karena baginya satu iman lebih baik untuk anak-anaknya nanti
daripada dua iman kepercayaan membingungkan anak-anak. Karena itu juga ia
memutuskan pindah keJakarta mengikuti suaminya.
Menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik dan menjadi
seorang katolik yang baik adalah
juga panggilan khusus baginya. Bagaimana
ia berjuang dari waktu ke waktu yang dulunya kurang sabar dalam mendidik
anak-anaknya sekarang menjadi sangat sabar, karena dididukung oleh suaminya
juga. Dan bersyukur atas kesetiaan dan kebaikan suaminya yang selalu
mencintainya dan mendukungnya. Juga atas keberhasilannya dalam mendidik kedua
anaknya yang selalu akur dan saling
mencintai tolong menolong satu sama lain.
Ibu Nuni juga menjadi sangat mudah perhatian
kepada orang-orang yang sangat membutuhkan kerap kali memberi tawaran untuk
membantu anak-anak disekitarnya untuk dibantu dan setelah kedua anaknya
berhasil dan memiliki keluarga masing-masing. Saat ini ibu Nuni menjalani
hari-harinya mengurus suami dan membantu menjaga anak keponakannya sambil
menunggu dan berdoa semoga cepat diberi cucu oleh kedua anaknya yang sudah
menikah tetapi belum memiliki anak.
Pesan
iman dari Ibu Yani untuk wanita muda zaman ini adalah:
o
Bersabarlah dalam setiap cobaan dan tantangan
hidup memang awalnya sangat sulit tetapi percayalah dan yakinlah akan menikmati
hasilnya dikemudian hari.
o
Memberikan apa saja dengan tulus apapun yang
ada pada kita untuk dapat menolong sesama yang berkekurangan tidak harus dengan
materi tetapi dengan perhatian dan sapaan juga sudah membantu mereka.
o
Relasi kita dengan sesama perlu
diperbaharui terus menerus agar bisa saling membantu, tolong menolong satu sama
lain, agar tercipta suasan aman dan damai.
o
Teguhlah pada iman yang sudah kamu pilih
dan jalanilah dengan keyakinan yang pasti bahwa Tuhan sungguh-sungguh berkarya
dan senantiasa menyertai kita dalam setiap pesoalan hidup ini karena Allah Maha
Kasih.
Terima
kasih ibu Nuni untuk sharingnya semoga relasi yang kita bina selama ini dengan
sesama yang kita jumpai dimana saja sungguh-sungguh menciptakan suasana
kesejukan dan kedamaian. Amin.
Kesimpulan
Melalui sharing
iman yang singkat ini kami menyimpulkan bahwa di dalam perjalanan hidup beriman
ada banyak hal yang mempengaruhi proses
pertumbuhan iman seseorang apakah menjadi tumbuh dan berkembang ataupun mengalami kemunduran bahkan mengalami kematian iman
yang dapat dialami oleh setiap pribadi. Salah
satu hal yang sangat berpengaruh ialah suatu Zaman. Maka iman sangat diperlukan
agar dapat selalu berpengharapan akan cinta kasih Allah yang selalu setia
kepada umat-Nya. Disetiap waktu yang Tuhan berikan kepada umat-Nya, Ia mengutus
dan memanggil setiap pribadi untuk hidup dalam kasih-Nya itu dengan berbagai
cara Ia menghendaki agar semua orang mengalami kasih-Nya dan memperoleh
keselamatan hidup dan berbahagia bersama-Nya selama-lamanya.
Setiap
zaman didunia ini memiliki kisahnya masing-masing, dan memiliki kebutuhannya sendiri-sendiri, perkembangan zaman yang
semakin modern mendesak semua orang untuk dapat mengikuti perkembangan zaman
tersebut tetapi terus menerus mengembangkan pertumbuhan imannya agar tidak menyimpang dari kebenaran iman tetapi mengaplikasikan iman dalam menjalani
hidup dizaman modern saat ini.
Dalam
Peraturan Hidup Kanossian Artikel 56
dikatakan bahwa: “Realitas dunia sekarang secara mendesak mengajak kita untuk
mengambil bagian dalam evangelisasi baru dalam ekumenikal dan dialog antar
sesama”. Agar hal ini terwujud dimulai dari pribadi sendiri untuk bisa keluar
dari kenyamanan pribadi dan melebur dalam dunia Zaman ini tetapi tetap memiliki
integritas yang utuh dan yang berasa
sebagai orang yang beriman, terkhusus dalam beriman mengukuti Yesus Kristus,
seperti garam yang melebur dalam makanan meskipun tidak kelihatan tetapi terasa
bahwa ada garam didalamnya.